Assalamu'alaikum Para Santri~ Syaikh Qurotul'ain/quro-Karawang.

Perintis Islam Jawa Barat.

Menjalankan Kemudhoratan demi Kemashalatan yg lebih Luas.

Menikahkan Muslim & Non Muslim yg diharamkan Islam.

Terkadang Perbuatan Haram kedepannya bisa menghasilkan Manfaat yg sangat besar bila yg melakukannya Seorang Guru WASKITA....Tapi pastinya akan mendapat kecaman masyarakat pada saat itu.

Syaikh Quro adalah Syekh Qurotul'ain atau Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah. Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, Syekh Quro adalah seorang ulama yang arif dan bijaksana dan termasuk seorang ulama yang hafidz Al-qur'an serta ahli qiro'at yang sangat merdu suaranya. Dia adalah putra seorang ulama besar perguruan islam dari negeri Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin Akbar Al-Husaini serta Syekh Jalaluddin ulama besar Mekah. Jika di tarik dan di lihat dari silsilah keturunan, Syekh Hasanudin atau Syekh Quro masih ada garis keturunan dari Sayyidina Husein Bin Sayyidina Ali R.a dengan Siti Fatimah putri Rosulullah SAW. menantu dari Nabi Muhammad SAW. dari keturunan Dyah Kirana (Ibunya Syekh Hasanudin atau Syekh Quro). Selain itu Syekh Hasanudin atau Syekh Quro juga masih saudara seketurunan dengan Syekh Nurjati Cirebon dari generasi ke-4 Amir Abdullah Khanudin.

Konon, beliau pencetus pesantren sebagai candradimuka kaum santri. Beliau adalah leluhur, guru dan teman seperjuangan Walisongo dalam mensyiarkan agama islam yang kala itu masih dipenuhi sakralisasi Hindu.


Sebelum berlabuh di Pelabuhan Karawang, Syekh Quro datang di Pelabuhan Muara Jati, daerah Cirebon pada tahun 1338 Saka atau tahun 1416 Masehi. Syekh Nurjati mendarat di Cirebon pada tahun 1342 Saka atau tahun 1420 Masehi atau 4 tahun setelah pendaratan Syekh Hasanudin atau Syekh Quro di Cirebon. Kedatangan Syekh Hasanudin atau Syekh Quro di Cirebon, disambut baik oleh Syahbandar atau penguasa Pelabuhan Muara Jati Cirebon yang bernama Ki Gedeng Tapa. Maksud dan tujuan kedatangan Syekh Hasanudin ke Cirebon adalah untuk menyebarkan ajaran Agama Islam kepada Rakyat Cirebon. Syekh Hasanudin ketika di Cirebon, namanya disebut dengan sebutan Syekh Mursahadatillah oleh Ki Gedeng Tapa dan para santrinya atau rakyat Cirebon.

Setelah sekian lama di Cirebon, akhirnya misi Syekh Hasanudin untuk menyebarkan ajaran Agama Islam di Pelabuhan Cirebon rupanya diketahui oleh Raja Pajajaran yang bernama Prabu Angga Larang. Namun disayangkan misi Syekh Hasanudin ini oleh Prabu Angga Larang di tentang dan dilarang, dan kemudian Prabu Angga Larang mengutus utusannya untuk menghentikan misi penyebaran agama Islam yang dibawakan oleh Syekh Hasanudin dan mengusir Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah dari Tanah Cirebon.


Ketika utusan Prabu Angga Larang sampai di Pelabuhan Cirebon, maka utusan itu langsung memerintahkan kepada Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah untuk segera menghentikan dakwah dan penyebaran agama Islam di Pelabuhan Cirebon. Agar tidak terjadi pertumpahan darah, maka oleh Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah atau Syekh Quro perintah yang dibawakan oleh utusan dari Raja Pajajaran Prabu Angga Larang itu disetujuinya, dan Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah seraya berkata kepada utusan Raja Pajajaran Prabu Angga Larang: "Meskipun dakwah dan penyebaran ajaran agama Islam ini dilarang, kelak dari keturunan raja Pajajaran akan ada yang menjadi Waliyullah meneruskan perjuangan penyebaran ajaran agama islam". Peristiwa ini sontak sangat disayangkan oleh Ki Gedeng Tapa dan para santrinya atau rakyat Cirebon, karena Ki Gedeng Tapa sangat ingin berguru kepada Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah atau Syekh Quro untuk memperdalam ajaran agama islam.

Ketika itu juga Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah pamit kepada Ki Gedeng Tapa Muara Jati Cirebon untuk pergi ke Malaka, maka Ki Gedeng Tapa Muara Jati Cirebon menitipkan anak kandung kesayangannya yang bernama Nyi Subang Larang, untuk ikut berlayar bersama Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah ke Malaka. Menurut juru kunci makam, Habib Rista, Syekh Quro sempat membangun masjid dengan nilai arsitektur tinggi. Masjid itu diberi nama Mangal Mangil Mangup. Konon dengan segala karomahnya, masjid itu dipindahkan secara ghaib ke Gunung Sembung Cirebon yang pada masa itu menjadi kediaman Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah berada di Pelabuhan Bunut Kertayasa (Kampung Bunut Kelurahan Karawang Kulon Kecamatan Karawang Barat Kabupaten Karawang sekarang ini). Di Karawang beliau dikenal sebagai Syekh Quro karena dia adalah seorang yang hafal Al-Quran (hafidz) dan sekaligus qori yang bersuara merdu. Sumber lain mengatakan bahwa Syekh Quro datang di Jawa tepatnya di Karawang pada 1418 Masehi dengan menumpang armada Laksamana Cheng Ho yang diutus Kaisar Cina Cheng Tu atau Yung Lo (raja ketiga zaman Dinasti Ming). Tujuan utama perjalanan Cheng Ho ke Jawa dalam rangka menjalin persahabatan dengan raja-raja tetangga Cina di seberang lautan. Armada tersebut membawa rombongan prajurit 27.800 orang yang salah satunya terdapat seorang ulama yang hendak menyebarkan agama islam di Pulau Jawa. Mengingat Cheng Ho seorang muslim, permintaan Syekh Quro beserta pengiringnya menumpang kapalnya dikabulkan. Syekh Quro beserta pengiringnya turun di pelabuhan Pura Dalem Karawang, sedangkan armada Cina melanjutkan perjalanan dan berlabuh di Pelabuhan Muara Jati Cirebon.

Di Kabupaten Karawang pada tahun 1340 Saka (1418 M) mendirikan pesantren dan sekaligus masjid di Pelabuhan Bunut Kertayasa Tanjung pura,Karawang Barat, Karawang, sekarang, diberi nama Pondok Quro yang artinya tempat untuk belajar Al-Quran. Syekh Quro adalah penganut Mahzhab Hanafi, yang datang bersama para santrinya antara lain : Syekh Abdul Rohman, Syekh Maulana Madzkur, dan Nyai Subang Larang. Syekh Quro kemudian menikah dengan Ratna Sondari putrinya dari Ki Gedeng Karawang dan lahir seorang putra yang bernama Syekh Akhmad yang menjadi penghulu pertama di Karawang. Syekh Quro juga memiliki salah satu santri yang sangat berjasa dalam menyebarkan ajaran agama islam di Karawang yaitu bernama Syekh Abdullah Dargom alias Syekh Darugem bin Jabir Modafah alias Syekh Maghribi keturunan dari Sayyidina Usman bin Affan r. a. Yang kelak disebut dengan nama Syekh Bentong atau Syekh Gentong alias Tan Go. Syekh Bentong memiliki seorang istri yang bernama Siu Te Yo dan beliau mempunyai seorang putri yang diberi nama Siu Ban Ci.

Ketika usia anak Syekh Quro dan Ratna Sondari sudah beranjak dewasa, akhirnya Syekh Quro berwasiat kepada santri-santrinya yang sudah cukup ilmu pengetahuan tentang ajaran agama islam seperti: Syekh Abdul Rohman dan Syekh Maulana Madzkur ditugaskan untuk menyebarkan ajaran agama islam ke bagian selatan karawang, tepatnya di kecamatan Teluk Jambe, Ciampel, Pangkalan, dan Tegal Waru sekarang. Sedangkan anaknya Syekh Quro dengan Ratna Sondari yang bernama Syekh Ahmad, ditugaskan oleh sang ayah meneruskan perjuangan menyebarkan ajaran agama islam di Pesantren Quro Karawang atau Masjid Agung Karawang sekarang.

Sedangkan sisa santrinya yang lain yakni Syekh Bentong ikut bersama Syekh Quro dan Ratna Sondari istrinya pergi ke bagian utara karawang tepatnya ke Pulobata desa Pulokalapa kecamatan Lemah abang kabupaten karawang sekarang, untuk menyebarkan ajaran agama islam dan bermunajat kepada Allah swt.

Di Pulobata Syekh Quro dan Syekh Bentong membuat sumur yang bernama Sumur Awisan, kini sumur tersebut masih dipergunakan sampai sekarang. Waktu terus bergulir usia Syekh Quro sudah sangat udzur atau tua, akhirnya Syech Quro Karawang meninggal dunia dan dimakamkan di Pulo Bata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang. Sebelum meninggal dunia Syekh Quro berwasiat kepada santri-santrinya yaitu : "Ingsun titip masjid langgar lan fakir miskin anak yatim dhuafa".

Maka penerus perjuangan penyebaran ajaran agama islam di Pulobata, diteruskan oleh Syekh Bentong sampai akhir hayatnya Syekh Bentong. Makam Syekh Quro Karawang dan Makam Syekh Bentong ditemukan oleh Raden Somaredja alias Ayah Djiin alias Pangeran Sambri dan Syekh Tolha pada tahun 1859 Masehi atau pada abad ke-19. Raden Somaredja alias Ayah Djiin alias Pangeran Sambri dan Syekh Tolha, di tugaskan oleh kesultanan Cirebon, untuk mencari makam maha guru leluhur Cirebon yang bernama Syekh Quro. Bukti adanya makam Syech Quro Karawang di Pulo Bata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemah abang Kabupaten Karawang, di perkuat lagi oleh Sunan Kanoman Cirebon yaitu Pangeran Haji Raja Adipati Jalaludin saat berkunjung ke tempat itu dan surat, penjelasan sekaligus pernyataan dari Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII Nomor : P-062/KB/PMPJA/XII/11/1992 pada tanggal 05 Nopember 1992 yang ditunjukan kepada kepala desa Pulokalapa kecamatan lemah abang kabupaten karawang.

Setelah beberapa waktu berada di pelabuhan karawang, Syekh Hasanuddin menyampaikan dakwahnya di mushollah yang dibangunnya dengan penuh keramahan. Uraiannya tentang agama islam mudah dipahami, dan mudah pula untuk diamalkan, karena ia bersama santrinya langsung memberi contoh. Pengajian Al-Qur'an memberikan daya tarik tersendiri, karena ulama besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya. Oleh karena itu setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatakan masuk Islam.

Berita tentang dakwah Syekh Hasanuddin (yang kemudian lebih dikenal dengan nama Syekh Quro) di pelabuhan karawang rupanya telah terdengar kembali oleh Prabu Angga Larang, yang dahulu pernah melarang Syekh Quro melakukan kegiatan yang sama tatkala mengunjungi pelabuhan Muara Jati Cirebon. Sehingga ia segera mengirim utusan yang dipimpin oleh sang putra mahkota yang bernama Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi untuk menutup Pesantren Syekh Quro. Namun tatkala putra mahkota ini tiba di tempat tujuan, rupanya hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. Putra Mahkota (yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi itu pun mengurungkan niatnya untuk menutup Pesantren Syekh Quro, dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Larang yang cantik itu dan halus budinya. Lamaran tersebut rupanya diterima oleh Nyai Subang Larang dengan syarat mas kawinnya haruslah berupa "Bintang Saketi Jejer Seratus", yaitu simbol dari "tasbih" yang berada di Negeri Mekkah.

Sumber lain menyatakan bahwa hal itu merupakan kiasan bahwa sang Prabu haruslah masuk Islam, dan patuh dalam melaksanakan Syariat Islam. Selain itu, Nyai Subang Larang juga mengajukan syarat, agar anak-anak yang akan dilahirkan kelak haruslah ada yang menjadi seorang Raja. Semua hal tesebut rupanya disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa, sehingga beberapa waktu kemudian pernikahan pun dilaksanakan, bertempat di Pesantren Quro (atau Masjid Agung Karawang sekarang) dimana Syekh Quro sendiri bertindak sebagai penghulunya.

Raden Pamanah Rasa dan Nyai Subang Larang dikaruniai 3 orang putra yang bernama :

1. Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana atau Cakraningrat (Yang lahir pada tahun 1345 Saka atau tahun 1423 Masehi).

2. Nyi Mas Rara Santang atau Syarifah Muda'im (Yang lahir pada tahun 1348 Saka atau tahun 1426 Masehi).

3. Raja Sangara atau Raden Kian Santang (Yang lahir pada tahun 1350 Saka atau tahun 1428 Masehi).


Raden Walangsungsang mengislamkan Garut.

Nyi Lara Santang adalah Ibu dari Syekh Syarif Hidayatulloh.

Raden Kian Santang siapapun tahu sepak terjangnya Utk Islam.


Inilah Hasil perkawinan yg diharamkan Islam tapi karena Syekh Quro adalah Wali Allah,Beliau siap menerima Hukuman atas perbuatannya tsb karena Beliau Tahu manfaatnya sangat Besar dikemudian hari yaitu mengislamkan Jawa Barat.

Perlu diingat Beliau adalah sepupu Laksamana Cheng Ho.

wallahu a'lam.

Post A Comment: