Assalamu'alaikum Para Santri~

KYAI HAJI WASID PEJUANG “GEGER CILEGON”

Ulama Akherat Nusantara Pejuang NKRI.
Santrinya Ki Asnawi Caringin Mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyah wal Qodiriyah.

Berbagai peristiwa perjuangan melawan kolonial yang terjadi di wilayah Banten cukup banyak, perlawanan terjadi pada tahun 1815, dibawah pimpinan Mas Bangsa, Mas Bima, dan Nuriman. Pada tahun 1815 terjadilah serang-serangan yang tiada henti-hentinya dan memuncak pada pengepungan keraton Sultan di Pandeglang. Pemberontakan tersebut dipimpin oleh Nuriman yang sekalipun dapat dipukul mundur oleh pasukan pemerintah kolonial namun sebenarnya sulit untuk ditumpas karena banyaknya dukungan dari pengikutnya yang setia, di pihak lain terutama dipihak pemerintah kolonial masih terdapat kelemahan dimana pada waktu itu hampir di seluruh Banten Selatan terdapat kekosongan administratif, sistem kepamong prajaan dan personil perpajakan sama sekali tidak memadai untuk melaksanakan tugasnya dengan baik, dalam menghadapi kekacauan, pembrontakan selalu diperlukan dukungan kekuatan militer yang besar. Karena itu kaum pemberontak masih leluasa mengadakan perlawanan dan penculikan terhadap para personil pemungut pajak yang selalu mereka benci.
Pada awal tahun 1819 beberapa anggota pamongpraja yang memungut sewa tanah mengalami serangan dari para pemberontak, situasi dan kondisi politik pemerintah kolonial pada masa-masa tersebut makin buruk, kekacauan yang mengakibatkan Rakyat Banten melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan politik pemerintah kolonial tersebut makin diperberat lagi oleh pemberontakan-pemberontakan yang berturut-turut dari tahun 1820, 1822, 1825 dan 1827. Pemimipin pemberontakan Mas Raya menentang usaha vaksinasi yang diharuskan oleh pemerintah kolonial terhadap penduduk, ketika tahun 1820 dan pada tahun 1822, 500 orang pemberontak mengepung Anyer tetapi tidak berhasil. Pemberontakan tahun 1825 yang dipimpin oleh Tumenggung Muhammad dari Menes. Temenggung Muhammad dan pengikut-pengikutnya menolak untuk membayar pajak, kemudian mereka mengadakan huru hara terhadap pemungut-pemungut pajak, pasukan pemerintah kolonial berhasil menumpas mereka. Tumenggung Muhammad dengan enam orang pengikutnya melarikan diri melintasi gunung Pulosari menuju ke Pandeglang. Meskipun demikian perjuangan Tumenggung Mohammad berakhir pula karena ia berhasil ditangkap pasukan pemerintah kolonial. Dua tahun kemudian yaitu pada tahun 1827 seorang pemimpin pemberontak yaitu Mas Jakariya berhasil mengobarkan lagi semangat rakyat yang tidak senang terhadap pemerintah kolonial. Pasukan-pasukan pemerintah kolonial mengadakan paksaan untuk pengakuan rakyat dengan cara membongkar Desa-desa sehingga timbul kericuhan, pengembaraan Mas Jakariya berakhir karena ia ditangkap kemudian dijatuhi hukuman mati dan mayatnya dibakar. Dari tahun 1830 an, yaitu tahun 1832, 1833, 1836 dan 1839 terus menerus terjadi pemberontakan-pemberontakan. Tahun 1836 pemberontak-pemberontak dapat ditumpas oleh pemerintah, namun sebagian masih dapat berkeliaran di daerah Banten sehingga timbulah Pemberontakan yang baru. Pemberontak yang ada tahun 1836 dapat meloloskan diri dari kepungan pasukan pemerintah yaitu Ratu Bagus Ali yang juga dikenal sebagai Kiayi Gede, kemudian Pangeran Radli dan Mas Jebeng adalah anak Mas Jakariya. Mereka dapat pula diluluhkan dan ditangkap oleh pasukan pemerintah kolonial, tetapi ketika tiga orang pemimpin pemberontak yang semuanya anak Mas Jakariya yaitu : Mas Anom, Mas Serdang dan Mas Adong berhasil menggabungkan diri dengan kaum pemberontak setelah melarikan diri dari penjara Banyuwangi. Mereka bermaksud mengadakan pemberontakan, pada tahun 1841 pada awal bulan puasa. Pejabat-pejabat pemerintah tidak ada yang berani memasuki desa-desa karena kegawatan-kegawatan terjadi, namun demikian pemberontakan tersebut barulah terjadi pada tahun akhir 1845. Selama itu huru hara dan kekacauan masih terus berjalan sekalipun juga beberapa pemimpinnya berhasil ditangkap dan dipenjarakan.
Peristiwa-peristiwa pada tahun 1845 akhir itu dikenal sebagai peristiwa Cikande. Kejadiannya semula tanggal 13 Desember kaum pemberontak merebut rumah Tuan Tanah di Cikande Udik yang kemudian membunuh Tuan Tanah Kamphuys, istri dan lima anaknya, semua orang Eropa di daerah sekitarnya dibunuh oleh para pemberontak. Kecuali tiga anak lainnya dari keluarga Kamphuys di selamatkan oleh Bapak Sarinten, kepala pemberontak, pengikut pemberontakan semakin lama semakin banyak sehingga mencapai lebih kurang 600 orang. beberapa pemimpin yang dikenal dari perlawanan Cikande ialah : Mas Endong, Mas Rila dari Cikupa dan Mas Ubid dari Kolle, Kiai Gede, Bapa Samini, Amir dari Bayuku yang juga bekerja sama dengan Mas Ubid, Raden Jinten, Pangeran Lamer dan seorang wanita bernama Sarinem. Permusuhan, pemberontakan atau perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda dari pertengahan abad ke-19 di daerah Banten itu bersumber pertamanya dari ketidak puasan dan penggeseran karena kaum Aristokrat Banten yang lama dan menginginkan kembalinya masa keemasan kesultanan masa lampau kemudian kelembagaan hak pemilikan tanah yang disatu pihak menimbulkan pemilikan tanah pada kaum berada disedang lain pihak menimbulkan segolongan rakyat yang melarat dan tergantung kehidupannya kepada pemilik tanah. Penyebab lainnya ialah sifat keagamaan orang Banten. Kemudian ada pula disebabkan lembaga-lembaga pemerintah kolonial yang dipaksakan dan tidak berakar dalam bumi Banten. Pada tanggal 24 Februari 1850 telah terjadi pembunuhan terhadap Demang Cilegon dan stafnya yang sedang mengadakan inspeksi di Rohjambu. Kerusuhan-kerusuhan dipimpin oleh orang-orang seperti Raden Bagus Jayakarta, Tubagus Suramaja, Tubagus Iskak, Mas derik, Mas Diad, Jaro Daud, nasid, Asidun, Haji Wakhia dan Penghulu Dempol, diantara mereka Haji Wakhia yang terkenal perjuangannya. sudah sejak tahun 1850 lalu mengadakan huru-hara menentang pemerintah kolonial Belanda. KH.Wakhia adalah seorang penduduk kampung Gudang Batu Waringin Kurung yang kaya. Ia kembali dari Mekkah tahun 1847 sehingga mendapat sambutan dan penghargaan dari penduduk, yang menentang politik pemerintahan, oleh penduduk dianggap sebagai orang yang suci. Sebenarnya Kyai Haji Wakhia diajak oleh Tubagus Iskak untuk terus mengobarkan perjuangan menentang politik pemerintah kolonial Belanda dengan dukungan utamanya penduduk Gudang Batu, seruan Kyai Haji Wakhia terhadap rakyat untuk mengadakan perang sabil terhadap pemerintah kolonial Belanda sebagai perang terhadap orang kafir, hal tersebut dilakukan pula terus menerus dibawah pimpinan Penghulu Dempol. Pusat Perjuangan lainnya ialah di P. Merak, dimana dapat dihimpun orang-orang dari lampung di bawah pimpinan Mas Diad.
Setelah pemberontakan yang dipimpin Kyai Haji wakhia berakhir maka menyusul lagi kerusuhan dan pemberontakan antara tahun 1851 dan 1850. Pristiwa-peristiwa tersebut antara lain yang disebut peristiwa Usup tahun 1851, peristiwa Pungut dalam tahun 1862, kasus Kolelet dalam tahun 1866 serta kasus Jayakusuma dalam tahun 1868. Yang disebut peristiwa Usup yaitu kejadian pembunuhan terhadap Mas Usup, Jaro Tras Daud dengan keluarganya oleh orang yang tidak dikenal pada tanggal 15 April 1851. Para pejabat pemerintah telah mendengar adanya pertemuan yang diselenggarakan oleh para pemberontak di Tegal Papak, yang kemudian ada usaha percobaan pembunuhan terhadap residen. Peristiwa itu semuanya didalangi oleh Mudin yang telah meramalkan pemerintah kolonial sudah akan ambruk, gerakan Mudin itu di bantu oleh Kamud dan Nur, pemerintah kolonial berhasil menangkap 20 0rang pemberontak yang akhirnya juga dibuang. Pada tahun 1862 Mas Pungut dan kawan-kawannya melakukan huru-hara dan pembrontakan, untuk menarik pengikutnya Mas Pungut mengaku dirinya sebagai anggota keluarga Sultan dan anak Mas Jakaria, gerakan tersebut pada tanggal 19 September 1862 diketahui pemerintah berada di hutan Cilanggar, pada waktu Mas Pungut berada di Desa Cidora sedang singgah di rumah Bapak Arsid dengan 25 orang pengikutnya berhasil ditembak. Namun demikian muncul lagi gerakan-gerakan masyarakat lainnya yang lebih besar yaitu sekitar tahun 1866. Dikabarkan mereka akan menyerang dan menghancurkan Kota Pandeglang dan mengirimkan surat-surat yang mengancam pada pejabat terutama Residen dan Bupati. Pemerintah kolonial dalam pada itu berhasil mengkap seorang bernama Asmidin salah seorang anakbuah tersangka Mas Sutadiwirya bekas Demang di Baros, Selain itu juga di curigai bekas Bupati Pandeglang, R.A.A. Natadiningrat. Para perusuh yang akan melakukan pemberontakan yaitu berjumlah 30 orang yang berasal dari kolelet. Cikande, Lebak dan Keramat Watu, dan ternyata mereka itu bekas pejuang-pejuang dahulu.
Sebelum terjadinya peristiwa Geger Cilegon perjuangan Ulama dan Petani Banten mengusir penjajah Kompeni Belanda terlebih dahulu terjadi kejadian gunung Krakatau meletus pada hari Senin tanggal 27 Agustus 1883 jam 10:27 Wib, sulit untuk diceritakan dengan kata – kata, Tgl 25 Agustus 1883, hari Sabtu dua hari sebelum letusan, awan di sekitar Kalianda / Lampung terjadi awan gelap dan hawa terasa panas, tiba – tiba turun hujan abu, angin bertiup tidak terlalu kencang, kilat merah menyambar – nyambar dan ini berlangsung terus sampai terjadi letusan dua hari kemudian yang memiliki Kekuatan setara dengan 21.547,6 kali letusan bom atom The Guinees book of record menyebut sebagai “ The most power full recorded explotion in history “ letusan pertama disusul letusan kedua dan ketiga membuat gelombang Tsunami, dentumannya terdengar sampai jarak 4500 KM dari pusat ledakan di selat sunda, mengakibatkan terjadinya semburan Vulcanic yaitu Semburan materi seperti : abu, kerikil setinggi 80 KM berjatuhan dan menutupi daerah seluas 800.000 Km persegi selama tiga hari tiga malam dan memuntahkan 25 Km kubik batuan dan Abu Vulkanik ke udara, Pulau Jawa dan Sumatra tertutup oleh awan gelap dan hujan abu dengan ketebalan abu mencapai 1 meter dan menciptakan Kaldera sepanjang 15 Km dibawah permukaan laut, juga menciptakan gugusan Pulau Panjang setinggi 146 meter dan Pulau Sertung setinggi 300 meter dari permukaan laut, serta Korban jiwa : 36.417 jiwa, 165 Kota pemukiman luluh lantak hilang dari permukaan bumi, 132 desa porak poranda, tsunaminya terasa hingga Hawwai dan pantai Barat Amerika Serikat, suara ledakannya terdengar hingga Perth Australia yang berjarak 3110 km dan sisi barat Rodreguis dekat Mauritus yang berjarak 5000 km, suhu rata – rata global turun hingga 1,2 drajat Celcius sehingga bumi sempat gelap gulita tertutup abu vulkanik. setelah kejadian tersebut beberapa lama kemudian Anak krakatau mulai muncul ke permukaan laut sejak 26 Januari 1928 dengan ketinggian sekarang ini mencapai 230 meter dan terus akan bertambah tinggi, dengan penambahan 4 Cm / thn, masyarakat aceh pernah merasakan bencana tsunami pada tahun 2007 yang demikian dasyat, sementara Tsunami merupakan bagian dari bencana yang menyertai terjadinya letusan gunung berapi Krakatau yang letaknya ditengah – tengah selat Sunda. Dalam sejarah tercatat letusan Gunung Krakatau merupakan terdasyat dalam sejarah Vulkanologi, beberapa tahun dampaknya masih terasa menimbulkan gangguan cuaca di daerah lainnya.
Pada masa itu Banten mengalami berbagai cobaan, setelah Kesultanan Banten dihapuskan oleh Deandels, rakyat Banten kehilangan tempat bersandar, meskipun berstatus tinggi dan sangat terpandang dalam masyarakat para keturunan Sultan sudah tidak berkuasa lagi sebagian besar membaur pada masyarakat dan menanggalkan Gelar Kebangsawanannya serta menyamarkan identitasnya, karena Gelar Kebangsawanannya dianggapnya sebagai gelar restu dari pemerintah Kolonial Belanda dan siapa saja boleh menggunakan asal mengikuti kemauan Pemerintah Kolonial Belanda, sehingga para keturunan bangsawan/kesultanan mereposisi diri menjadi Tokoh Ulama yang akhirnya lebih diterma Rakyat Banten, karena memang Tokoh Pendiri Kesultanan Bantenpun pada mulanya berperan sebagai tokoh penyebar Agama Islam lebih berperan sebagai Tokoh Ulama, sehingga pada masa itu rakyat Banten membutuhkan figure dan Tokoh serta kelompok yang mampu memfasilitasi mewujudkan visi dan misi perjuangannya yang sesuai dengan aqidah dan Ideologinya, sementara pemerintah Kolonial sangatlah berbeda baik Aqidahnya maupun Ideologinya, pada masa pasca runtuhnya dan dihapuskannya kesultanan Banten Oleh Deandels dan Rafles, di Banten terjadi kevakumam kekuasaan disatu sisi kesultanan Banten telah tiada sementara pembenahan Birokrasi oleh Pemerintah Kolonial belum berjalan tertib pasca dibubarkannya VOC, sehingga membuka ruang gerak bagi berbagai elemen masyarakat untuk melakukan perlawanan meneruskan perjuangan keluarga Besar Kesultanan Banten, terdapat diantaranya berjuang untuk menegakkan kembali berdirinya kesultanan Banten, tujuan perjuangan Ki Wasid salah satunya mendudukkan Tubagus Ismail sebagai Sultan Muda Banten/pemimpin di Banten, disamping yang memang memiliki agenda sendiri misalnya mengambil keuntungan pribagi atau kelompoknya dari berbagai peristiwa pemberontakan terhadap kekuasaan colonial Belanda, sebelum peritiwa Perlawanan Ulama dan Petani Banten pimpinan Ki Wasid dan Rekan – Rekannya berbagai peritiwa baik sifatnya sporadis maupun perjuangan yang terkoordinir telah terjadi di Bumi Banten, namun yang skalanya terbesar dan serentak serta terkoordinir hanya peristiwa yang lebih dikenal dengan sebutan Geger Cilegon yang dicatat dalam sejarah karena mengakibatkan banyaknya jatuh korban serta tercatat beberapa tokoh masyarakat dan Ulama pada zamanya yang diasingkan dan di buang ke beberapa wilayah di Nusantara selain diantaranya yang digantung oleh pemerintah kolonial Belanda, sehingga pandangan rakyat Banten berkarakter Pemberontak sengaja dihembuskan oleh Pemerintah Kolonial maupun pada masa Pemerintah Republik Indonesia merdeka, baik periode Orde Lama maupun orde Baru sehingga perjuangan untuk menjadi Provinsi tersendiri lepas dari Jawa Baratpun memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit, terlebih yang bertujuan merestorasi kesultanan Banten agar menjadi Simbol Budaya maupun pemersatu Masyarakat Banten Jauh Asap dari Api.
Yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa Geger Cilegon
Dalam catatan sejarah pada tahun 1879 di bumi Banten dan sekitarnya terjadilah wabah Kolera dan menjalar keseluruh wilayah jawa, sukar dipastikan dimana wabah dimulai dan pada masa itu sangat sulit sekali untuk menanggulanginya, sehingga pemerintah kolonial memobilisasi berbagai karakter orang yang mampu bekerja dengan imbalan tertentu untuk menjadi relawan, akhirnya kebijakan tersebut mengganggu kewibawaan pemerintah Kolonial pada masyarakat karena diantaranya terdapat pemabuk dan pemadat yang kebiasaannya berfoya foya dan mabuk-mabukan sehingga melalaikan tugas yang harusnya dikerjakan, karena tidak menguasai pekerjaan yang harusnya dilakukan sehingga perlakuan Petugas pada ternak (kerbau) yang terjangkit wabah panyakit dilakukan pembinasaan dengan ditembak, sementara ganti rugi tidak sesuai harapan pemilik ternak, memerkosa anak perempuan pemilik ternak, sementara pihak penguasa kolonial tidak memperdulikan sama sekali sikap perlakuan seperti itu, pada masa itu rakyat Banten sangat menderita dengan perlakuan penanganan masalah tersebut oleh Pemerintah Kolonial. Sebagai akibat pembantaian Kerbau secara Massal dan kuburan masal kerbau dimana-mana, di seluruh Banten terjangkit Wabah penyakit panas, pada Agustus 1880 tercatat kurang lebih 210.000 orang menderita panas 40.000 diantaranya meninggal dunia, diduga akibat penularan dari sumber air yang digunakan masyarakat pada masa itu yang tercemari kuman – kuman dari kuburan masal kerbau, karena rakyat Banten ketika terjangkit wabah penyakit pada kerbau menguburkannya tergesa-gesa tidak melakukan desinfektan terhadap kuburan kerbau, sehingga kuman dan Bakterinya menyebar menimbulkan berjangkitnya penyakit pada manusia, karena di daerah lain tidak terjadi wabah penyakit seperti yang terjadi pada rakyat Banten. Sementara pada Petugas yang disiapkan pemerintah Kolonial terjadi penyalahgunaan, obat yang seharusnya dibagikan cuma-cuma ditukar dengan ayam pada penduduk atau minuman keras (Wiski) pada pedagang Cina. Sehingga penanggulangan wabah tidak sesuai harapan mengakibatkan banyak jatuh korban dikalangan petani sehingga produksi bahan pokok menjadi berkurang, lahan pertanian tidak tergarap akibat langkanya kerbau untuk membajak serta tenaga kerjanya, sehingga menimbulkan kekurangan bahan makanan berakibat terjadinya kelaparan. Kebijakan pemerintah kolonial Belanda pada saat itu sudah mulai memperhatikan masyarakat Banten akan tetapi peritiwa pada tanggal 23 Aguistus 1883 dengan meletusnya Gunung Krakatau bencana alam yang sangat dasyat meluluhlantakkan wilayah Banten. Gelombang Tsunami melanda pantai Barat Banten, pantai Carita, anyer semua sirna tanpa berbekas, banyak manusia yang tewas tenggelam tertelan gelombang Tsunami Gunung Krakatau, Jalan antara Anyer samapi Carita yang pemandangannya cukup Indah tergenang lumpur dan bangkai manusia serta hewan berserakan dimana-mana, abu vulkanik, timbunan pohon serta persawahan yang larut dan tergenang lumpur dan abu vulkanik, pada saat itu orang Banten teringat akan Ramalan datangnya Kiamat yang sering diingatkan para Ulama supaya tersadar dari kehidupan yang telah terjadi yaitu hidup dibawah kekuasaan bangsa Kafir kolonialis Belanda. Sejak peristiwa bencana dan malapetaka yang bertubi – tubi menimpa masyarakat Banten akhirnya menjadikan kehidupan beragama menjadi meningkat dan mengarah kepada perjuangan membebaskan diri dari belenggu penjajahan, masyarakat Banten pada masa itu percaya jika penguasa Kafir dapat diusir maka masyarakat kehidupannya akan sejahtera dan kegiatan perlawananpun mulai dilakukan walaupun terselubung dengan kemasan kehidupan beragama, sementara pemerintah Kolonial Belanda melaksanakan kebijakan sistem perpajakan baru dan sistem kerjapaksa, rodi yang banyak menyengsarakan rakyat, sehingga mulailah timbul gerakan – gerakan yang mengarah terjadinya pemberontakan terhadap kolonial Belanda.
Pada kurun waktu tahun 1887 dan 1888 di Banten Utara daerah Tanara, kekuatan sosial dan keagamaan secara perlahan mulai mengkristalisasi serta mengarah kepada gerakan perlawanan di bawah tanah sebagai bahaya laten bagi pemerintahan kolonial, mengapa konsilidasi kekuatan perlawanan berangkat dari wilayah pesisir utara karena di wilayah utara merupakan basis perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa beserta keturunannya, ketika kesultanan Banten dihapuskan. Tokoh-tokoh karismatik yang memiliki otokrasi besar dengan basis yang kokoh banyak berasal dari pesisir utara Banten pada saat itu bahkan sampai saat ini tradisinya masih seperti masa lalu, dari wilayah pesisir utara Banten khususnya daerah Tanara, salah satunya Syeikh Adbdulkariem Ulama Tarekat Qadariyah Wa Naqsyabandiyah seorang Ulama kharismatik yang berasal darti Leumpuyang Tanara, kembali dari Mekkah Saudi Arabia tahun 1860 dan 1870, Syeikh Abdul Kariem sebagai murid Syeikh Kyai Haji Khatib Sambas menyebarkan tarekat dan memiliki murid – murid yang tersebar di seluruh wilayah Banten khususnya Pesantren di wilayah Pesisir utara Banten. gerakan tarekat yang diajarkan Haji Abdul Karim, terutama setelah ia kembali dari Mekkah ke Desanya yaitu lampuyang, pada tahun 1872 makin berkembang, beliau mendirikan pesantren dan dalam waktu yang relatif singkat mendapat banyak murid dan pengaruh, pengaruh terhadap penguasa bangsa Indonesia seperti Bupati, serta penghulu Kepala di Serang, Patih Pensiunan Serang yaitu Haji R.A. Prawiranegara, pusat kegiatan Kiyai Haji Abdul Karim di Tanara, begitu pesat pengaruhnya yang besar dikalangan rakyat dan pejabat pemerintah sehingga dikenal pula sebagai Kiyai Agung bahkan dianggap sebagai Wali Allah. Jika mengadakan zikir-zikir di rumah-rumah tertentu, Langgar dan Masjid ia sempat pula melancarkan dan menganjurkan tentang perlunya mengadakan perang sabil terhadap pemerintah kolonial yang disebut kafir, pengaruhnya terbukti amat besar ketika ia melaksanakan penyelenggaraan pesta perkawinan putrinya, banyak Kiyai dan haji terkemuka hadir, berasal dari berbagai daerah yaitu Jakarta, Periyangan dan sebagainya. Kampung Lempuyang tempat Haji Abdul Karim tinggal dihiasi dan disemarakkan oleh seluruh masyarakatnya, sampai-sampai tanpa mengeluarkan biaya, bukti pengaruh yang besar di kalangan rakyat di daerah Banten dan sekitarnya yaitu ketika ada kabar ia mau ke Mekkah, masyarakat dan Kyai-kyai di Tanara, Tangerang dan daerah-daerah lainnya banyak yang sudah menanti dan akan memberi selamat jalan, menimbulkan kekhawatiran pada pemerintah akan terjadi huru-hara, sehingga minta kepada Haji Abdul Karim agar berangkat langsung menggunakan kapal ke Jakarta, berangkatlah Syeikh KH. Abdul Kariem tanggal 13 Februari 1876 ke Mekkah, Syeikh Abdulkariem dipanggil kembali ke Mekkah karena Syeikh Khatib Sambas menunjuknya sebagai Mursyid (Guru Besar) Tarikat menggantikannya, sehigga sebelum peristiwa Geger Cilegon Syeikh Abdulkariem berangkat kembali ke Mekkah Saudi arabia, Menjelang keberangkatannya, kepada murid-murid dekatnya Syeikh Abdul Karim mengatakan bahwa dia tidak akan kembali lagi ke Banten selama daerah ini masih dalam genggaman kekuasaan asing. Dia memang tidak terlibat secara langsung pemberontakan yang meletus 12 tahun setelah keberangkatannya ke Tanah Suci itu. Tapi dialah yang menjadi perata jalan bagi murid-murid dan pengikutnya untuk melakukan jihad atau perang suci. Di antara murid-muridnya yang terkemuka, yang mempunyai peranan penting dalam pemberontakan Banten, antara lain Haji Sangadeli dari Kaloran, Haji Asnawi dari Bendung Lampuyang, Haji Abu Bakar dari Pontang, Haji Tubagus Ismail dari Gulacir, dan Haji Marjuki dari Tanara. Mereka juga dikenal sebagai pribadi-pribadi yang punya karismatik. Kepergian Abdul Karim ke Makkah, ternyata tidak menyurutkan pengaruhnya di Banten, popularitasnya bahkan meningkat, rakyat telah dilanda rindu dan ingin bertemu dengannya, sementara para muridnya sendiri sudah tidak sabar menantikan seruannya untuk berontak.
Snouck Hurgronje, yang menghadiri pengajiannya di Makkah pada 1884-1885, menceritakan: “Setiap malam beratus-ratus orang yang mencari pahala berduyun-duyun ke tempat tinggalnya, untuk belajar zikir dari dia, untuk mencium tangannya, dan untuk menayakan apakah saatnya sudah hampir tiba, dan berapa tahun lagi pemerintahan kafir masih akan berkuasa.” Tetapi Syeikh Abdul Karim tidak memberikan jawaban pasti. Dia selalu memberikan jawaban-jawaban yang samar tentang soal-soal yang sangat penting seperti mengenai pemulihan kesultanan atau saat dimulainya jihad. Dia hanya mengisyaratkan bahwa waktunya belum tiba untuk melancarkan perang sabil.
Sepeninggalnya Syeikh KH. Abdul Kariem pergerakan selanjutnya di Banten dibawah pimpinan kyai Haji Tubagus Isma’il. Pada tahun 1883 mulai hidup gerakan-gerakan yang menuju kepematangan pemberontakan. Kiyai Haji Tubagus Isma’il adalah salah seorang murid Kyai Haji Abdul karim, begitu cepatnya ajaran tarekat Qadiriah wa Naksyabandiah yang diselenggarakan pada tiap kesempatan di rumah-rumah, di langgar-langgar serta di masjid-masjid, begitu besar kharismanya sampai juga dianggap wali allah. KH. Tb. Isma`il mempropagandakan gerakan untuk memberontak terhadap pemerintah kolonial yang dianggap kafir dengan jalan sabilillah, gagasan untuk melakukan perlawanan atau pemberontakan terhadap kolonial itu disambut baik oleh kyai-kyai yang terkenal seperti Kyai Haji wasid dari Beji, Haji Abu Bakar dari Pontang, haji Sangedeli dari kaloran, Haji Iskak dari saneja, Haji Usman dari Tunggak, Haji Ansawi dari Bendung lampayung, Haji Muhammad Asik dari Bendung, namun demikian kematangan sekali untuk memberontak memerlukan waktu, tentunya hasil propaganda melalui dakwah-dakwah di berbagai tempat dan kesempatan, melaui dzikir-zikir tarekat, pesta-pesta perkawinan, sunatan dan lainnya, pada saat bersamaan timbul pula gerakan yang diajarkan dan di pimpin Haji Marjuki di Tanara. Ia mengadakan perjalanan sambil melakukan propaganda disamping menyampaikan pengetahuannya agama terutama melalui tarekat Qadariyah wa Naksyabandiyah, penganutnya banyak dalam waktu yang singkat, baik dari Banten sendiri, muapun, dari daerah Tangerang, Bogor atau Jakarta. Kyai Haji Wasid pun senantiasa melakukan propaganda supaya para kiyai Haji serta masyarakat menentang pemerintah kolonial Belanda yang kafir dan melakukan jihad, amat ditekankan selama kepemimpinannya, sayang sekali pada waktu mencapai kematangan untuk melaksanakan perlawanan, Haji Marjuki pergi ke Mekkah.
Selanjutnya pergerakan keagamaan dilanjutkan dengan lebih intensif melakukan pendekatan melalui alat komunikasi perjuangan yaitu mengadakan dzikiran baik di rumah-rumah maupun di langgar atau masjid-masjid dengan kegiatan mengajarkan tarekat, terutama Qadariyah Wa Naksyabandiyah. Gerakan-gerakan Kebangunan keagamaan tersebut di tambah dengan banyaknya para tokoh yang melakukan ibadah Haji, maka kegiatan-kegiatan gerakan tersebut makin kuat. Melalui pesantren-pesantren dengan ajaran-ajaran tarekat terutama Tarekat Qadariyah Wa Naksyabandiyah, maka para tokoh pejuang yang kebanyakan haji dengan mudah pula untuk melancarkan taktik perjuangan menentang pemerintah kolonial pemerintah yang kafir. gerakan-gerakan yang akan mematangkan perlawanan dan pemberontakan terhadap kekuasaan kolonial itu di daerah Banten antara lain yang dipimpin Haji Tubagus Ismail, haji Marjuki sampai terjadinya pemberontakan atau perlawanan yang dipimpin Kiyai Haji Wasid, yang memelopori perlawanan atau pemberontakan yang terkenal dengan Geger Cilegon pada tanggal 9 Juli 1888. Gerakan keagamaan yang dilakukan murid – murid Syeikh Abdulkariem umumnya dilakukan terbuka, tetapi ketika membicarakan gerakan perlawanan terhadap kolonial Belanda, para ulama membahasnya secara sembunyi – sembunyi walaupun kemasannya bentuknya pertemuan pengajian maupun pertemuan lain yang bersifat keagamaan, akan tetapi walupun dilakukan sembunyi – sembunyi tetap saja gerakannya tercium oleh kolonial Belanda enam bulan sebelum terjadinya peristiwa karena terlihat kesibukan-kesibukan yang dilakukan oleh pemuka dan Tokoh peristiwa Geger Cilegon ketika mengadakan pertemuan – pertemuan, dengan diadakanya pertemuan – pertemuan dalam bentuk pengajian maupun acara kenduri yang dilakukan para pemuka agama dan Tokoh – tokoh pemimpin perlawanan, selama Bulan Jumadil Akhir (4 Februari – 13 Maret) diadakan tiga kali pertemuan, yang pertama dirumah H.Marjuki di Tanara di hadiri oleh ulama-ulama dari Serang, Anyer dan Tangerang, yang kedua di Terate di rumah H.Asngari dengan dihadiri pemuka dari Serang dan Anyer, pertemuan berikutnya di Saneja dirumah H.Iskak. dalam Bulan Rajab tempat pertemuan pindah ke Beji di rumah KH.Wasid kemudian disusul rapat di Kaloran ditempat M.Sangadeli, terus dilanjutkan dengan pertemuan dirumah H.Asnawi di Bendung Lempuyung, dalam bulan ruwah berikutnya, berturut-turut orang berkumpul di Tanara lagi untuk kedua kalinya, bertempat dirumah H. Marjuki. Kemudian di Beji dirumah H.Wasid rupanya selama bulan Puasa tidak ada pertemuan, baru pada tanggal 12 bulan Syawal atau 22 Juni 1888 terselenggara salah salah satu pertemuan terakhir, meskipun yang hadir tidak selalu orang-orang yang sama, namun senantiasa ada tokoh pemimpin gerakan diantara mereka, antara lain KH.Marjuki, KH.Wasid, KH.Tb. Isma’il dan KH.Iskak, acara pertemuan-pertemuan tidak diketahui, namun dapat diduga bahwa pembicaraan so’al persediaan alat senjata, pembagian tugas, penggerakan pengikut serta penyelenggara latihan-latihan, antara lain pencak silat.
Pada pertemuan pada tanggal 22 Juni diselenggarakan pesta memperingati hari lahir (khaul) Syeikh Abdul Qodir Jaelani pendiri tarekat Qadiriyah wa Naksyabandiah, maka ada Kenduri besar, pada kesempatan tersebut dibicarakan hari pencetusan pemberontakan dan diputuskan sesuai dengan usul KH.Wasid, ialah tanggal 12 Juli. KH.Marjuki tidak dapat menyetujuinya, maka tak lama kemudian pergi ke Batavia disertai anak-istrinya dan murid-muridnya, untuk selanjutnya bertolak ke Mekkah tanggal itupun menurut KH.Wasid terlalu terlambat, maka ditekannya agar diajukan sesuai dengan primbon, yaitu akhir bulan Syawal, yaitu 29 Syawal atau Senin 9 Juli 1888. Sejak tanggal 2 para kiyai sibuk sekali, saling komunikasi terus menerus dan mengadakan konsultasi terkahir, pada rapat di Terumbu pada 1 Juli, ada keputusan-keputusan penting antara lain KH. Wasid diangkat sebagai panglima perang pembagian tugas kepemimpinan dan lain-lain, persiapan terakhir dilakukan dalam rapat di Jombang Wetan, Saneja dan Gulacir (Sabtu, dan Minggu, 7-8 Juli). sementara itu terjadi beberapa peristiwa yamg merupakan Konsidensi sejarah, yang akhirnya mempengaruhi perkembangan gerakan perlawanan terhadap Kompeni Belanda di Kota Cilegon. Pertama, pada akhir juni di Pandeglang ada perhelatan-perhelatan perkawinan besar-besaran, yaitu antara putra Bupati Pandeglang dengan putri Bupati Serang, sudah barang tentu banyak kiyai di undang sehingga banyak kekosongan dimana-mana. Kedua, selamanya perayaan itu sudah beredar desas desus dikalangan bawah ada naga besar telah menampakan diri dan penduduk desa Pasir Angin percaya rakyat bahwa munculnya naga itu adalah tanda akan adanya musibah besar yang akan menimpa mereka. Ketiga, pada awa Juli itu beberapa pejabat tinggi Belanda antara Residen Banten, Asisten Residen Anyer, disertai bawahan Eropa dan pribumi melakukan inspeksi di Afdeling Anyer, menurut sementara pihak, telah menjadi kehendak Allah untuk melaksanakan perang sabil sesuai waktu yang ditentukan. Keempat, pemanggilan Kiyai Haji Wasid pada bulan September 1887 oleh Wedana Kramat watu untuk mempertanggung jawabkan masalah tidak merawat kebun istrinya sekalipun tidak dipenuhi pangilan Wedana karena telah mengutus sahabatnya yaitu Haji Muhammad Anwar namun kiyai Haji Wasid merasa tidak senang. Persoalan lainnya yaitu dianggap terlibat dalam penebangan pohon kebun kepunyaan orang lain sehingga Abas mendapat hukuman 14 hari kerja paksa. Kemudian yang juga menyebabkan kebencian Kyai Haji Wasid yaitu tindakan jaksa dalam kaitan perkara penebangan pohon oleh Samidin yaitu murid KH. Wasid, dipanggilnya KH.Wasid ke Pengadilan untuk menyelesaikan perkara penebangan Pohon Besar yang dianggap membawa kemusrikan walaupun Panggilan untuk menjadi saksi oleh jaksa ditolaknya, Kelima, beredar desas-desus adanya larangan berdo’a dzikir, berpesta-pesta dengan membunyikan gamelan dan membuat tayuban perhelatan perkawinan dan khitanan.
Selanjutnya diungkapkan terjadinya insiden ucapan Asisten Residen Gubbels yang tidak kuasa menahan emosi karena Istrinya yang sakit Syaraf mengamuk ketika mendengar suara Adzan dan sholawat serta Dzikir yang biasa dikumandangkan murid-murid H.Makid di rumah dan langgar (Mushola) yang letaknya bersebelahan dengan Rumah Asisten Residen Gubbels, ucapanya yang mengatakan : “Untuk apa orang melaksanakan Shalat dan Dzikir bersuara keras, Tuhan toh Tidak Tuli” segera tersebar luas dikalangan masyarakat Cilegon dan Banten sehingga menjadikan gerakan perlawanan lebih termotivasi untuk segera dilaksanakan. Pada hari Sabtu, tanggal 7 Juli 1888, diadakanlah pertemuan para kiyai untuk persiapan terakhir pematangan gerakan di rumah Haji Akhia di Jombang Wetan. Hadir dalam pertemuan itu antara lain: Haji Sa’id dari Jaha, Haji Sapiuddin dari Leuwibeureum, Haji Madani dari Ciora, Haji Abdul Halim dari Cibeber, Haji Mahmud dari Tarate Udik, Haji Iskak dari Seneja, Haji Muhammad Arsad (penghulu kepala di Serang) dan Haji Tubagus Kusen (penghulu di Cilegon). Untuk menutupi kecurigaan Belanda atas pertemuan itu diadakan suatu kenduri besar. Sekitar jam 23.00, datang Nyi Kamsidah, istri Haji Iskak, memberitahukan bahwa Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail ingin bertemu dengan para kiyai yang hadir. Maka setelah lewat tengah malam para kiyai segera berangkat ke Saneja untuk mengadakan pertemuan kedua di rumahnya Haji Ishak. Dalam pertemuan ini hadir pula Haji Abubakar, Haji Muhiddin, Haji Asnawi, Haji Sarman dari Bengkung, dan Haji Akhmad, penghulu Tanara. Haji Ashik dari Bendung, dan kiyai-kiyai dari Trumbu, tidak hadir dalam pertemuan ini karena sudah dipastikan bahwa mereka akan memulai pemberontakan pada hari Senin tanggal 29 Syawal atau 9 Juli 1888. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Haji Wasid dan Haji Ismail pergi ke Wanasaba untuk mengadakan pembicaraan dengan murid-muridnya, di antaranya Haji Sadeli dari Kaloran. Dari sana, keduanya pergi ke Gulacir, ke rumah Haji Ismail; selesai shalat magrib dengan dikawal sejumlah muridnya Haji Wasid berangkat ke Cibeber untuk kembali mengadakan pertemuan dengan murid-muridnya yang lain. Pertemuan itu dilangsungkan di dalam masjid di luar masjid sudah berkumpul pengikut-pengikut mereka, terutama dari Arjawinangun dan Gulacir yang juga dihadiri oleh Haji Burak, saudara Haji Tubagus Ismail, Haji Abdulgani dari Beji, Kiyai Haji Abdulhalim dari Cibeber dan Nuh dari Tubuy; untuk membicarakan langkah terakhir pemberontakan.
Pada malam tanggal 8 Juli 1888 pesta malam diteruskan dengan arak-arakan yang di ikuti oleh makin banyaknya orang dengan bersenjata golok dan tombak. Persiapan menuju realisasi pemberontakan dipimpin KH. Wasid dan KH.Tubagus isma’il bergerak dari Cibeber ke arah Saneja, yaitu tempat pemusatan untuk menunggun komando penyerangan. Pada hari Senin tanggal 9 juli 1888 pemberontakan harus dimulai di Cilegon untuk kemudian disusul serangan di Serang. Momentum gerakan perlawanan tiba pada saat yang menentukan tak terduga oleh pihak pemerintah dan penduduk Cilegon, menjelang tanggal 29 Syawal atau Senin 9 Juli 1888 minggu malam seperti malam lain-lainnya, dalam suasana tenang dan tentram, langit terang bertaburan bintang-bintang, hanya bunyi jangkrik dan belalang yang terdengar, larut tengah malam dari berbagai penjuru mulai bergerak pasukan pemberontak, menuju ke Cilegon dari sebelah Timur dari jurusan Saneja barisan sekitar 100 orang di bawah pimpinan KH.Iskak masuk terlebih dulu dan mulai menyerang rumah juru tulis Belanda, Dumas dan kompleks perumahan para pejabat. Sementara datang barisan dari jurusan Arjawinangun di bawah pimpinan KH.Tubagus Isma’il menuju ke gardu pasar Jombang Wetan. dari arah Bojonegoro dan Beji tibalah pasukan yang paling besar dibawah pimpinan KH.Wasid dan KH.Usman. Gardu dipasar menjadi markas besar dari mana KH.Wasid memberi komandonya, rombongan pertama bertugas mendobrak penjar (bui) untuk membebaskan tawanan, yang kedua menyerbu Kepatihan dan yang ketiga menyerang rumah Asisten Residen. suara riuh gaduh dari pekik sabilillah “ Sabilillah “ semangat sudah berkobar-kobar emosi meluap, maka kekerasan tak dapat dihindari lagi dalam saat-saat yang berikut Cilegon berubah menjadi gelanggang pertupahan darah, korban berjatuhan. Semua pejabat Belanda dan Pribumi menjadi target, perempuan dan anak-anak Belanda juga berjatuhan sedangkan wanita priyayi mendapat kesempatan melarikan diri, perlawanan yang dilakukan asisten residen Gubbels yang mengikuti rombongan residen, kembali ke Cilegon untuk menyelamatkan keluarganya, tetapi justru masuk perangkap dan terbunuh pada hari Senin tersebut, KH.Wasid pergi ke arah utara untuk memimpin pasukan dari Bojonegoro. dari Saneja KH.Tubagus Isma’il memimpin pengikut-pengikutnya yang berasal dari Arja winangun, Gulacir, dari Cibeber di bantu oleh pasukan-pasukan dari saneja sendiri dan sekitarnya menuju Cilegon untuk menyerang para pejabat pemerintah kolonial Belanda, pertama memasuki rumah dumas, seorang juru tulis di Cilegon, tetapi ia dapat lolos, hanya istrinya luka-luka kena bacokan. Dumas melarikan diri kearah jaksa sementara masa rakyat bergerak menuju ke rumah patih, tetapi ia sedang ke serang katanya. Menjelang pagi tanggal 9 Juli 1888 Wedana berunding dengan Ajun kolektor untuk mengambil tindakan mengutus ke Serang dan Ke Anyer. Pagi tersebut serangan umum terjadi dipimpin oleh KH. Tubagus Isma’il, Haji usman dari arja Winanngun dari segala jurusan berdatangan menyerbu pamong-pamong pemerintahan, demikian pula halnya pasukan yang dipimpin KH.Wasid, KH.Usman dari Tunggak, H. Abdul Gani dari Beji, Haji Nasiman dari kaligandu. Pemimpin operasi besar penyerangan ialah KH.wasid sendiri. Jaksa dan ajun kolektor sudah dibunuh oleh pasukan KH. Wasid. tempat lainnya yang menjadi amukan rakyat pada hari Senin itu ialah rumah asisten Residen Gubbels Asisten Residen Gubbels sedang tidak ada dirumah, dalam perjalanannya kembali dari anyer Gubbels diberi tahu adanya kejadian dirumah dan keluarganya. Penyerangan terjadi terhadap semua pejabat pemerintah kolonial Belanda Cilegon. Peristiwa yang amat penting ialah pengejaran Gubbels. Setelah mendapat berita bahwa keluarga Asisten residen itu telah diserang maka Gubbels dari anyar buru-buru kembali dengan kereta kudanya menuju Cilegon. dipertengahan jalan dicegat oleh pasukan pemberontak dibawah pimpinan Kalipudin yang kemudian menyerang Gubbels. Walaupun luka-luka namun masih bisa meneruskan perjalanannya, tapi bagaimanapun usahanya ketika sudah berada di Cilegon, pada saat bersamaan pasukan KH. Wasid menuju kepatihan, Gubbels tengah duduk diserambi dengan memegang pistol, kemudian ketika bersembunyi diseranglah Gubbels yang tak dapat berbuat banyak, ia dibunuh, kemudian mayatnya diseret. Diluar disambut pekik kemenangan dari pemberontak. Asisten Residen inilah yang mereka anggap alat yang paling utama dari pemerintahan kolonial Belanda. Setelah Gubbels dibunuh maka KH.Wasid dengan KH.Tb.Isma’il menuju Serang untuk bergabung dengan pasukan yang dikirim kesana. Pemberontakan bukan hanya terjadi di Cilegon saja tetapi juga di daerah Bojonegoro dan Serang, jumlah koban mencapai 17 orang, diantara 7 orang Belanda, sedang diantara sisanya terdapat Wedana dan Jaksa, jumlah yang luka-luka ada 7 orang, setelah Cilegon dikuasai, barisan bergerak untuk menyerbu serang sementara barisan dari Terumbu dan Bendung telah menyerang Kaloran dan Kaujon sehingga Ibukota telah ada dalam bahaya, apabila tidak terjadi sesuatu antara Cilegon dan Serang, jalannya sejarah Banten akan lain sekali, segera setelah berita tentang huru-hara terdengar di Serang, maka dikirim satu pasukan bersenjatakan 28 senapan ke arah Cilegon dibawah pimpinan kontrolir dan Bupati Serang, pada saat pasukan sampai ditempat sebelah barat Kramat watu, dimana jalan menembus pegunungan terjadilah pertempuran serangan yang gagah berani dari beberapa pejuang tak berhasil memukul mundur pasukan pemerintah yang melakukan tembakan-tembakan. Korban berjatuhan, suatu pristiwa yang merupakan kejutan bagi barisan dan menimbulkan titik balik dari pemberontakan.
Meskipun demikian para pejuang pasukan KH. Wasid masih terus bertahan dan makin kearah Selatan. Sejak itu barisan pemberontakan berada pada pihak defensif, secara terpencar melakukan perlawanan secara gerilya, selama tiga minggu masih berusaha bertahan, tetapi kelompok para pemimpin semakin terdesak dan terpaksa mundur ke ujung kulon, dimana dalam pertempuran terakhir disebelah selatan Cisiit dekat Desa sumur, para pejuang diserang oleh pasukan pemerintah kolonial Belanda, pada tanggal 30 Juli 1888 dari desa Sumur jam 10 pagi, tanpa mengenal menyerah mereka mengadakan perlawanan yang gigih sehingga gugur, ternyata setelah diidentifikasi diantaranya KH.Wasid, KH. Tb.Isma’il, KH. Usman. selama bertempur dengan pasukan pemerintah kolonial Belanda terdapat 19 orang yang gugur dan sejumlah 94 orang ditawan kemudian dibuang keberbagai daerah diluar jawa. Diantaranya kakek buyut penulis yang bernama KH. Tb.Ali dibuang ke digul selanjutnya dipindahkan ke Ambon Maluku. Dengan gugurnya KH. Wasid dan kawan-kawan serta sejumlah pasukannya maka berakhirlah riwayat perlawanan pejuang-pejuang Banten terhadap kolonialis Belanda di daerah Banten, menurut anggapan pihak pemerintah Belanda, karena sebenarnya didaerah ini pada masa-masa kemudian tetap ada perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda, semangat perjuangan KH. Wasid beserta seluruh masyarakat Banten Khususnya Kota Cilegon menjadi pemicu semangat untuk tetap berjual, dikemudian hari terbukti anak keturunan pejuang- pejuang tersebut masih tetap berjuang hingga saat ini walaupun bentuk perjuangannya telah berbeda, yakni dalam bentuk perjuangan fisik menjelang kemerdekaan Indonesia maupun berjuang untuk mencerdaskan masyarakat melalui lembaga pendidikan yang diwariskan oleh kakek buyutnya yang telah menjadi Pahlawan Pejuang Geger Cilegon, meskipun hingga saat ini belum dikategorikan sebagai Pahlawan Nasional.
ditulis oleh doni hasan alfakir aldhoif albahlul
sumber zainalaminin.com

Post A Comment: