Habib luthfi bin ali bin hasyim bin yahya : 

"Thariqah"


Assalamu'alaikum Para SantriMenurut Habib luthfi bin ali bin hasyim bin yahya :
Thariqah adalah Pertama, untuk meningkatkan kedudukan atau maqamatil ‘ubudiyyah secaraindividu, sehingga sadar dan meningkatkan kesadaran apa saja kewajiban-kewajiban yang diperintah oleh Allah dalam meningkatkan taat kepada syari’atillah yang disertai khidmah(pengabdian) kepada Allah Ta’ala.
Kedua,meningkatkan ketaatan dan khidmahnya kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang disertai mahabbah (cinta) kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
Ketiga, mengetahui dan mengerti thariqah sebagai pengantar menuju jalan Allah danRasul-Nya.
Keempat, thariqah adalah menghasilkan buah bernama tasawwuf dalam rangka tashfiyatul quluub (membersihkan hati)wa tazkiyatun nufus (menyucikan jiwa).

Penyakit hati diantaranya dengki atau hasad, sombong(takabbur), riya’, dan lupa kepada Allah serta lupa kepada Rasul-Nya. Sehingga, menyebabkan individu tidak mencapai maqamatil ihsankarena iman yang ada di qalbu (hati) cahayanya(yang sebenarnya mampu menerangi rongga-rongga hati, kedua mata, kedua telinga, mulut,tutur kata, kedua tangan, dan kedua kakinya,serta membersihkan darah yang banyak mempengaruhi pertumbuhan fisik organ tubuhdari sebab darah yang kotor tersebut mampu mempengaruhi kejernihan pola pikir), menjadi gelap atau keruh yang akhirnya bisa berpengaruh dan menjadi sebab terjadinya kesempitan dan ketidak jernihan dalam menafsirkan Al Quran, Hadits, dan perkataan salafuna ash-shalihin (dalam nasehat atau kitabnya).

Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan suatu alat ialah wudlu’ dengan air atau tayammum dengan debu untuk menjadi sarana bersuci. Akan tetapi, karena wudlu tersebut kurang mampu menembus bathiniyahnya,sehingga wudlu’ tersebut hanya bagian syarat shalat dan lainnya, dari yang wajib sampai yang sunnah.

Apabila wudlu’ tersebut mencapai bathiniyahnya, semua yang diwudlui akan mempengaruhi jiwa dan badannya, sebab menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak terpuji di sisi Allah dan Rasul-Nya. Bila kita mau berpikir, alat pembersih badan adalah air, mulai dari mandi biasa sampai mandi besarserta wudlu’. Tubuh kita secara fisik telah dibersihkan dengan air tersebut. Dihitung mulai dari per hari mandi berapa kali, wudlu berapa kali, cuci muka berapa kali, sampai alat-alat rumah tangga sangat memerlukan peranan air. Pertanyaannya, berapa kalikah kita setiap harimen uci hati? Sadar atau tidak, bila kita tidakmandi satu hari, dua hari, atau tiga hari, dantidak berganti pakaian, secara logika tidak betah karena bau yang ada pada dirinya atau pakaiannya.
Bagaimana bau hati kita yang tidakpernah dicuci? Tebalnya kotoran hati tersebut tidak bisa kita bayangkan!!! Akan tetapi, AllahTa’ala Maha Pemurah. Seandainya Allah Ta’alatidak menutupi bau tersebut, jangankan lagi orang lain, dirinya sendiri tidak mampu menahan baunya, tiada satu alat yang mampu untuk membersihkan hati itu semua terkecuali thariqah, yang mana isinya dari mulai istighfar,shalawat, dan dzikir khususnya.

Apabila melihat keterangan tersebut di atas, maka wajib hukumnya masuk thariqah. Akan tetapi, kalau sekadar belajar untuk aurad (dzikir/wiridan), menambah nilai ibadah, maka sunnah hukumnya masuk thariqah.Thariqah mempunyai jalur silsilah, artinya kalimah thayyibah yang diamalkan mempunyai silsilah atau sanad dari guru mursyidnya sampaikepada Rasulullah SAW dan Allah Ta’ala. Dari silsilah tersebut yang melalui para pembesar para walinya, dari Allah dan Rasul-Nya, maka mengalir madaad (anugerah), al-fuyuudl al-asraar, rahasia dan asrar, dan beberapa rahasia yang sampai kepada para murid atau para muriidiin. Dari sebab madaad tersebut, sangatber pengaruh mendorong mencapai kepada wushul artinya sampai tujuan kepada Allah, anta’budallaha ka-annaka taraah, fa in lam takuntaraahu, fa innahuu yarak (Kamu menyembahAllah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak bisa melihat-Nya, maka kamu merasa dilihat-Nya). Dari situ bisa meningkatkan maqamatil ‘ubuudiyyah sebagaimana tersebutdi atas, sehingga akan menjadi sebab hambaAllah tersebut selamat dari ke-suu-ul khatimah-an. Wallahu A’lam.


ditulis Ulang Oleh Pak Rt

Post A Comment: